
Pulang Pisau – Meski sudah memasuki bulan keempat, ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Pantauan hari ini, Senin (26/10/2026) asap tebal yang menyelimuti wilayah kota Pulang Pisau dan sekitarnya membuat jarak pandang berkurang serta kualitas udara berada pada level tidak sehat hingga berbahaya.
Kondisi udara yang memprihatinkan ini tak lantas melumpuhkan denyut kehidupan masyarakat. Selama empat bulan berdampingan dengan asap, sebagian besar warga memilih tetap beraktivitas seperti biasa. Demikian juga sekolah dalam pantauan hari ini, masih melakukan proses pembelajaran seperti biasa, meski pada hari-hari sebelumnya sempat dilakukan pembelajaran jarak jauh atau secara virtual.
“Mau bagaimana lagi, kalau tidak bekerja kami tidak bisa memenuhi kebutuhan harian. Asap memang mengganggu dan membuat dada sesak, tapi hidup harus tetap berjalan. Yang penting sekarang rajin pakai masker dan minum air putih yang banyak,” ujar Budi (42), salah seorang warga.
Meski aktivitas berjalan normal, dampak kesehatan mulai terasa signifikan. Data dari fasilitas kesehatan setempat mencatat peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Pemerintah daerah Pulang Pisau bersama Satgas Karhutla terus berupaya melakukan pemadaman api pada hutan dan lahan yang terbakar, sembari mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan jika tidak ada urusan mendesak, dan wajib menggunakan masker saat beraktivitas di ruang terbuka.
Hingga berita ini diturunkan, warga sangat berharap penanganan titik api di area perkebunan dan hutan dapat segera tuntas, serta hujan deras segera turun untuk meluruhkan partikel asap yang telah menyelimuti wilayah Pulang Pisau selama empat bulan terakhir.(WKah)





